Barisan Dakwah SMUN 2 Bekasi

Barisan Dakwah SMUN 2 Bekasi

Artikel-Tausiyah

Tausiyah
IPTEK
Kesehatan
Keluarga

Who's Online

We have 3 guests online


Namanya Syukron... PDF Print E-mail
Written by Masim "Vavai" Sugianto   
Monday, 17 May 2010 19:12

Siang itu disebuah hari ditahun 1992. Awan tipis berarak pelan dilangit biru cerah. Hembusan angin menerpa kulit memberikan kesejukan alamiah.

Saya menjadi co-moderator dalam diskusi terbuka yang diadakan oleh IKREMA (Ikatan Remaja Manis, hehehe... Ikatan Remaja Masjid maksudnya) SMAN 2 Bekasi. Sebenarnya saya anak baru dilingkungan IKREMA, sehingga belum pantas menjadi moderator diskusi. Saya meyakini, satu-satunya alasan saya terpilih menjadi moderator adalah karena saya menyenangi acara debat. Kalau ingat sekarang saya jadi malu karena saya kadang tidak bisa membedakan mana yang disebut debat dan mana yang disebut ngotot :-D



Mekanisme diskusi cukup unik. Materi yang ingin didiskusikan diberikan pada moderator menggunakan secarik kertas, karena antara ikhwan (laki-laki) dan akhwat (wanita) dipisahkan oleh hijab. BTW, sebagai anak yang baru kenal IKREMA saat itu, saya sok bangga dengan beberapa kalimat yang baru saya dengar saat itu, "akhi", "ukhti", "ikhwan" dan "akhwat". Kedua kata terakhir sering membawa saya pada situasi memalukan karena saya sering tertukar mengatakan "akhwan" dan "ikhwat" :-P. Dasar !

Acara diskusi berlangsung lancar hingga satu saat rekan senior saya di IKREMA (saya lupa namanya tapi dia seangkatan dengan Sanjaya yang menjadi ketua IKREMA tahun 1992. Saya akui dia ganteng karena sikap dia yang menjaga diri membuat banyak anak cewek di SMAN 2 Bekasi yang fall in love) kebingungan. Saya tanyakan padanya, "Kenapa mas ?"

"Ini Vai, ada pertanyaan entah dari ikhwan atau akhwat tapi nggak ada namanya" katanya sambil menyerahkan secarik kertas pada saya. Kertas itu bertuliskan,

 

"Saya ingin bertanya, mengapa foto untuk Ijazah STTB tidak boleh menggunakan jilbab? Apa alasannya? Mengapa telinga mesti terlihat sekedar untuk foto? Katanya negara kita negara demokrasi, tapi mengapa untuk sekedar foto STTB harus melepas jilbab?"

Syukron

 

Saya heran pada rekan senior saya yang jadi moderator ini. Saya bilang, "Lha itu ada kok mas namanya. Itu, namanya Syukron". Tanpa saya duga, rekan saya itu tertawa geli. Sedemikian gelinya hingga dia memegangi perut dan membuat suasana diskusi jadi kisruh untuk sesaat...

Dasar, beginilah kalau anak baru berlagak jadi anak Ikatan Remaja Masjid :-)

--

Lokasi dan Waktu : SMAN 2 Bekasi, 1992
Acara : Diskusi terbuka IKREMA

--

Catatan :

*Medio tahun 1995, entah atas alasan apa (sepertinya sih aturan dari jamannya Daoed Joesoef, Mendikbud orang CSIS diakhir tahun 70-an), siswi dilarang foto untuk STTB menggunakan jilbab. Kalaupun pakai jilbab, telinganya mesti terlihat. Syarat yang absurd dan aneh. Katanya, kalau pakai jilbab nanti sukar dibedakan itu foto siapa ??? Masya iya ? Saya nggak pernah salah membedakan siswi-siswi yang pakai jilbab kok :-P

Akhir tahun 80-an, jilbab memang sempat dilarang disekolah-sekolah. Sepertinya ini terjadi saat CSIS berjaya di dunia politik Indonesia.

Terlepas dari pandangan soal jilbab, sebagai seorang yang kesana-sini mengaku demokratis saya selalu berpikir simple : Orang pakai rok mini saja boleh kok, masya orang pakai jilbab nggak boleh.

--

Tulisan ini dikutip dari blog alumni IKREMA

http://www.vavai.com/blog/index.php?url=archives/577-Namanya-Syukron....html


blog comments powered by Disqus
 
 
Joomla 1.5 Templates by Joomlashack