Barisan Dakwah SMUN 2 Bekasi

Barisan Dakwah SMUN 2 Bekasi

Artikel-Tausiyah

Tausiyah
IPTEK
Kesehatan
Keluarga

Who's Online

We have 2 guests online


Kebencian itu Awal dari Hidayah PDF Print E-mail
Written by Ustadz M. Syamsi Ali   
Friday, 12 February 2010 20:44

newyork.jpg‘Americans are those when don’t know they inquire’, jelasku. ‘I think your anger is well understandable. Firstly, because you don’t know and the remedy to that is to seek and inquire. Second, the media factors and the remedy to that is to clarify. And I think you did both’, jelasku.

***

Pagi ini, Rabu 10 Pebruari, kota New York sedang dilanda badai salju. Sejak tengah malam lalu, salju turun tiada henti membuat jalanan menjadi sepi dan licin. Kebanyakan warga memilih tinggal di rumah, berbagai institusi ditutup sementara, termasuk sekolah-sekolah dan bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Saya sendiri cukup malas untuk meninggalkan rumah pagi tadi. Tapi entah apa, rasanya saya tetap terpanggil untuk melangkahkan kaki menuju kantor PTRI, dan selanjutnya ke Islamic Center. Ternyata kantor PTRI juga pagi ini hanya dibuka hingga pukul 12 siang.

Akupun segera menuju Islamic Cultural Center of New York dengan tujuan
sekedar shalat Dhuhr dan Asr sekalian. Lazimnya, ketika ada badai salju atau
hujan lebat, jama’ah meminta untuk menjama’ shalat. Setiba di Islamic Center
saya segera menuju ruang shalat, selain untuk melihat apakah pemanas ruangan
telah dinyalakan atau belum, juga untuk shalat sunnah.

Tiba-tiba saja Sekretaris memanggil, ‘Some one is waiting for you!’. ‘Let me
do my sunnah and will be there!’, jawabku.

Setelah shalat sunnah, segera saya menuju ke ruang perkantoran Islamic
Center. Di ruang tamu sudah ada seseorang yang relatif berumur, tapi nampak
elegan dalam berpakaian. ‘Hi, good morning!’, sapaku. ‘Good morning!’,
jawanya dengan sangat sopan dan ramah. ‘Waiting for me?’, tanyaku sambil
menjabat tangan. ‘Yes, and I am sorry to bother you at this early time’,
katanya sambil tersenyum.

Saya mengajak pria berkulit putih tersebut ke ruangan kantor saya. Dengan
berbasa-basi saya katakan ‘wah mudah-mudahan anda diberikan pahala atas
perjuangan mengunjungi Islamic Center dalamm suasana cuaca seperti ini’. ‘Oh
not at all!. We used to this kind of weather’, jawabnya.

‘So, what I can do for you this morning’, tanyaku memulai pembicaraan. Tanpa
saya sadari orang tersebut masih berdiri di depan pintu. Barangkali dia
tidak ingin lancang duduk tanpa dipersilahkan. Memang dia nampak sopan, tapi
dari kata-katanya dapat dipahami bahwa dia cukup terdidik. ‘Please do have
your sit!’, kataku. ‘Thanks sir!’, jawabnya singkat.

Setelah duduk saya ulangi lagi, pertanyaan sebelumnya ‘what I can do for you
this morning?’. ‘Sambil membalik posisi duduknya, dia melihat ke saya dengan
sedikit serius, tapi tetap dengan senyumnya. ‘I am here for….’, seolah
terhenti..’for some clarifications!’, jawabnya. ‘I have been reading, I have
observed, even I have learned about the religion, and to be honest I know
about it a great deal!’, jelasnya.

‘That’s great!’, selaku. Tiba-tiba dia memotong ‘But I don’t know, from time
to time, I feel my suspicion about it and about the Muslims grows’. Dia
terdiam sejenak lalu menyambung ‘I kind of don’t believe what I know about
it!’,. ‘What do you mean?’, tanyaku singkat.

Sekali lagi sang pria tersebut merubah posisi duduknya lalu bercerita. ‘I
used to be very angry…I really hated this religion!’, jelasnya. ‘In last
many years, if it is in my hand I would have crashed it and its followers. I
felt the religion and those who follow it invaded my country!, jelasnya
dengan sangat serius. ‘And so, what happened?’, pancingku. Kini dia kembali
tersenyum, lalu menyambung ceritanya.

Untuk singkatnya, saya menuliskan beberapa catatan ceritanya, bagaimana
kebenciannya kepada agama Islam menjadi awal ‘kehausan’ untuk mencari tahu.
Suatu hari dia membeli makanan di pinggir jalan (Halal Food) di kota
Manhattan . Perlu diketahui, mayoritas mereka yang jual makanan di pinggir
jalan di kota New York adalah Muslim. Lalu menurutnya, di gerobak penjual
makanan itu tertulis ‘Laa ilaaha illa Allah-Muhammad Rasul Allah’ dalam
bahasa Arab. Kebenciannya yang sangat kepada Islam membuatnya tidak bisa
menahan diri untuk mengata-ngatai penjual makanan itu ‘don’t turn people
away from buying your food with that ….(bad word)’, katanya sinis!.

Tapi menurutnya lagi, sang penjual itu tidak menjawab dan hanya tersenyum,
bahkan merespon dengan ‘Thank you for coming my friend!’.

Singkatnya, menurut dia lagi, sikap penjual makanan itu selalu teringat di
pikirannya. Bahkan sikap itu menjadikannya merasa bersalah, tapi pantang
untuk datang meminta maaf. Ketidak inginannya meminta maaf itu, katanya
sekali lagi, karena kebenciannya kepada agama ini. ‘That really made me
angry to my self, but really curious at the same time!’, sambungnya.

‘In the beginning, I was just googling some informations about the religion.
Then listening to some lectures on Youtube (especially Hamzah Yusuf’s
ones)’, ceritanya. Setelah itu kemudian membeli beberapa buku karangan non
Muslims, termasuk sejarah Rasul oleh Karen Amstrong, Shari’ah oleh John
Esposito, dll.

‘The more I learned, the more I feel being suspicious and confused!’,
herannya. Saya kemudian memotong ‘Had you ever thought, why is that?’. ‘I
don’t know, but I think media factors!’, jawabnya singkat. Tapi kemudian
segera meyambung bahwa  setiap kali dia melihat pemboman, pembunuhan,
pengrusakan, dan bahkan beberapa aksi films, ada-ada saja Muslim yang
terkait. ‘I really don’t know and confused, what kind of Islam these people
are practicing?’.

Dia kembali berbicara panjang,seolah menyampaikan ceramah kepada saya
tentang ‘jurang besar’ antara ilmu tentang Islam yang dia pahami dan
berbagai perangai yang dia lihat dari beberapa Muslim selama ini. Di satu
sisi, dia kagum dengan sikap penjual makanan tadi. Tapi di satu sisi, dia
marah dengan sikap beberapa orang Islam yang justeru melakukan berbagai (apa
yang disebutnya sebagai) ‘kejahatan atas nama Islam’. ‘And so, which side
will I be, if one day I will be a Muslim?’, tanyanya pada dirinya sendiri.

Setelah selesai, saya kemudian memulai mengambil kendali. ‘First,
congratulations!’, kataku singkat. Dia nampak bingung dengan ucapan saya
itu.

Segera saya sambung ‘You have been a real American!’. Dia tersenyum tapi
masih belum paham.

‘Americans are those when don’t know they inquire’, jelasku. ‘I think your
anger is well understandable. Firstly, because you don’t know and the remedy
to that is to seek and inquire. Second, the media factors and the remedy to
that is to clarify. And I think you did both’, jelasku.

Saya kemudian mengajak dia mendiskusikan berbagai hal. Mulai dari sejarah
peperangan, terorisme, pembunuhan, pengrusakan, dari dulu hingga sekarang.
Dan sebaliknya, bagaimana Islam telah memainkan peranan besar dalam
membangun peradaban manusia.

‘Throughout our human’s history, what you are seeing these days are not
surprising and new’. How many lives have been taken, properties have been
destroyed, home damaged?’, tanyaku. ‘And from the beginning of Prophet
Muhammad preached this religion in the 7th century in Arabia, up to this
day….how many wars and killings that have been Muslims as perpetrators?’,
tanyaku lagi.

Dia nampak hanya geleng-geleng kepala dengan contoh-contoh yang saya
berikan. Dari Hitler, Stalin, Perang Dunia I dan II, Hiroshima dan Nagasaki
, dst. Berapa di antara mereka yang terbunuh, dan siapa yang melakukan?
Peperangan di Irak, berapa yang terbunuh ketika jet-jet Amerika mendrop boms
di perkampungan-perkampungan? Siapa mayoritas tentara Amerika?

Kemudian, pernahkan dilakukan studi secara dekat, untuk mengetahui apakah
benar bahwa pemboman, pembunuhan, pengrusakan yang dilakukan oleh beberapa
Muslim selama ini, walau atas nama Islam, memang justified by Islam? Dan
benarkah bahwa memang motifnya karena memjuangkan Islam dan Muslims, atau
karena memang Islam dan Muslims adalah jembatan menuju kepada ‘interest
tertentu?’, ceritaku panjang lebar.

Tanpa terasa, waktu adzan Dhuhr telah tiba. ‘Sorry, that is what we call
adza  or the call to pray’, jelasku. Saya diam sejenak, dia juga nampak diam
mendengarkan adzan dari Sheikh Farahat, muadzin yang baru diterima sebagai
pegawai di Islamic Center. Suara tammatan Al-Azhar ini memang sangat indah.

Setelah adzan, saya kembali menyambung pembicaraan. Saat ini kita
membicarakan berbagai ketidak adilan yang terjadi di berbagai belahan dunia,
dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Secara ekonomi hanya segelintir yang
menikmati kue alam, secara politik ada pemaksaan sistemik kepada negara
lain, dst.

‘With all this, and by no way to say that killings, especially when we come
to the lives of innocents and civilians, are justified in the name of
struggling for justice’, lanjutku.

Tapi karena waktu sangat singkat, saya bertanya ‘what do you think? Is there
any thing that you do object to?’, pancingku. Dia nampak diam, tapi
tersenyum dan mencoba berbicara.

‘You are right!’, katanya singkat. ‘I have been unfair to my own self! My
association of Islam to behavior of some Muslims is completely unfair’.

‘You got the point, sir!’, jawabku singkat. ‘Now, I have to leave you for a
while. I need to pray!’, kataku sambil meminta maaf.

Tiba-tiba saja dia melihat saya dengan sedikit serius. Kali ini tanpa senyum
dan berkata ‘What should I do to be a Muslim?’, tanyanya. ‘Are you
serious?’, tanyaku. ‘Yes!’, jawabnya singkat. ‘Follow me!’, ajakku.

Saya ajak dia ke ruang wudhu, mengajarinya berwudhu, lalu ke ruang shalat.
Sambil menunggu waktu iqamah, saya menyampaikan kepadanya ‘What I am going
to do is leading you in declaring your new faith by what we call shahadah.
And it is to testify that there is no god worthy to be worship by Allah and
Muhammad is His Messenger’, jelasku seraya mengingatkan apa yang pernah dia
lihat dahulu di gerobak penjual makanan itu.

Sebelum iqamah dimulai saya ajak, Peter Scott, nama pria tersebut ke depan
jama’ah dan menuntunnya mengucapkan ‘Asy-hadu anlaa ilaaha illa Allah wa
asy-hadu anna Muhammadan Rasul Allah’, seraya diikuti gema takbir sekitar
200-an jama’ah shalat Dhuhr hari ini.

‘Peter, you are a Muslim, like others here today, nothing in you is less. In
fact, you are better then us because you chose to be, not only born into it
and follow it’, jelasku sambil meminta untuk menguikuti gerakan-gerakan
shalat sebisanya, tapi dengan konsentrasi.

Allahu Akbar! Semoga Peter selalu dijaga dan dijadikan pejuang di jalanNya!


New York, 10 Februari 2010


blog comments powered by Disqus
 
 
Joomla 1.5 Templates by Joomlashack