Barisan Dakwah SMUN 2 Bekasi

Barisan Dakwah SMUN 2 Bekasi

Artikel-Tausiyah

Tausiyah
IPTEK
Kesehatan
Keluarga

Who's Online

We have 2 guests online


Musibah Gempa, Ujian Untuk Siapa? PDF Print E-mail
Written by Tito Prabowo   
Wednesday, 30 September 2009 23:58

ما أَصابَ مِن مُصيبَةٍ فِى الأَرضِ وَلا فى أَنفُسِكُم إِلّا فى كِتٰبٍ مِن قَبلِ أَن نَبرَأَها ۚ إِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسيرٌ

"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhmahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." [QS Al-Hadid:22]

***

Pernah merasakan mati listrik bergiliran? Kemarin desa sebelah, besok kota tetangga, lusa mungkin giliran kampung kita. Yang mengatur sudah barang tentu adalah P-L-N.
Namun bencana alam, siapa yang mengatur?



Gempa besar berkekuatan 7,6 SR kembali mengguncang Nusantara. Sumatera Barat rusak berat disebabkan gempa yang berpusat (episentrum) di 50 KM barat utara dari kota Padang. Setelah sehari sebelumnya gempa dan tsunami menimpa Samoa pada pukul 06:48 pagi waktu setempat. Dan tentu saja masih ada di ingatan kita beberapa waktu lalu di bulan Ramadhan gempa besar juga terjadi di Jawa Barat. Kalau kita mau lebih jauh melihat kebelakang lagi, trauma gempa di Yogyakarta dan Tsunami di Aceh masih lah membekas di hati kita.

Salah seorang sahabat saya, dalam status di Facebook-nya menulis, "Everyone must be disposed to face something which will definitely come. And I think you know very well what's that supposed to mean with "definitely", right?". Ya, betul. Setiap dari kita pasti akan menghadapi sesuatu yang PASTI datang. Anda tentunya tahu, apa yang dimaksud "pasti" di sini bukan?

Mungkin buat anda yang tinggal jauh dari lokasi bencana tersebut dan tidak terkena dampak "goyangan Sang Kerak bumi" dapat berlega hati, tapi yakin kah anda bahwa bencana macam itu tidak akan terjadi pada anda? keluarga anda? Ini memang bukan soal giliran pemadaman listrik, tentu beda. Tapi juga sudah barang tentu tiap dari kita tidak ada yang tahu tentang apa yang bisa terjadi esok hari.

Sungguh betapa amat berat ujian yang mereka alami, saudara-saudara kita di Sumatera Barat, Jawa Barat, Yogyakarta, Aceh.
Tapi, benarkah ujian berat tersebut untuk mereka saja?
Bisa jadi kita yang justru tidak lulus ujian ini.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW pernah bersabda, “Kalangan syuhada itu ada lima; orang yg mati karena wabah kolera, karena sakit perut, tenggelam, tertimpa reruntuhan bangunan dan syahid berperang di jalan Allah” (HR Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan Ahmad)

Sesungguhnya ujian seperti ini adalah bagi kita semua, bukan hanya untuk mereka yang mengalami langsung musibah tersebut. Termasuk saya, sahabat saya, saudara saya dan anda yang sedang membaca tulisan ini. Sejauh mana (bagaimana) kemudian kita menyikapi ujian ini. Apakah kita juga ikut merasakan penderitaan saudara saudara kita? lalu langsung bergerak membantu dengan segala upaya yang ada, misalnya dana, bantuan makanan, pakaian, tenaga, doa. Sebagaimana mulut yang mengaduh kesakitan ketika tangan terjepit pintu. Merasa satu tubuh.

“Barangsiapa tidak peduli dg penderitaan orang beriman maka tidak termasuk golongan orang beriman”.

Semoga kita buka termasuk orang yang tak peduli atau menganggap biasa saja musibah tersebut.
"Ah, gempa di Indonesia, biasa itu." Na'udzubillah mindzalik, besok mungkin giliran kita.

Lalu, cukupkah ungkapan syukur kita kepada Sang Pemberi Rezeki?
Kita bisa hidup menjalani hari dengan tenang, anggota keluarga kenyang, dapat tidur berselimut nyaman. Bahkan hari ini, anda bisa buka facebook untuk senang-senang. Semua itu perlu untuk disyukuri.

Barangkali kita, yang sekarang duduk manis di depan komputer, yang alhamdulillah tidak mengalami bencana alam, lebih banyak tidak lulus dibanding saudara-saudara kita yang tertimpa bencana.

Selagi nafas masih bisa dihirup, mata masih bisa memandang, mulut masih bisa berucap, tenggorokan masih bisa menelan, telinga masih bisa mendengar, kaki masih bisa berjalan, mari kita syukuri segala yang kita peroleh, berbuat sekarang juga untuk saudara kita.

Rasulullah SAW. bersabda: "Siapa yang meringankan beban penderitaan seorang mukmin di dunia pasti Allah akan meringankan beban penderitaannya di akhirat kelak. Siapa yang memudahkan orang dalam keadaan susah pasti Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Siapa yang menutupi aib seseorang muslim pasti Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan akhirat. Dan Allah akan selalu menolong hambaNya jika hamba tersebut menolong saudaranya." (HR. Muslim)

Wallahu'alam bishowab.
Semoga bermanfaat :)

 


blog comments powered by Disqus
 
 
Joomla 1.5 Templates by Joomlashack